Show Me How Much You’ve Missed Me
tw: blowjob, handsjob, cumshot, kissing.
Mingyu fall first and Wonwoo fall harder, itu yang banyak orang katakan, tapi pada kenyataannya adalah Mingyu INDEED fall first, and THEY fall harder TOGETHER. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan dengan tingkah laku mereka seperti saat ini.
Mingyu yang baru saja tiba di hotel para member Seventeen menginap bukannya langsung menuju ke kamarnya untuk beristirahat, tetapi, sosok pria yang tinggi tampan dengan ribuan fans-nya itu malah segera pergi ke salah satu kamar member lainnya.
Sedangkan, Wonwoo yang baru saja membersihkan tubuhnya sehingga masih menggunakan bathrobe putih seketika keluar dari kamar mandi ketika ia mendengar seseorang menekan bel pintu kamarnya dan berteriak, “Room service.” Pria manis di dalam sana tentu saja sudah sangat hafal dengan suara pria di balik daun pintu cokelat itu dan segera membuka pintu kamarnya.
Bruk suara tas terjatuh saat sang pemilik kamar langsung menabrak tubuh besar pria di balik pintu dan memeluknya erat.
“Finally, you’re here!” kata Wonwoo menghirup dalam wangi dari leher pria yang baru saja mendarat di Chicago itu. “Kangen banget, Mingyu.” lanjut pria kelahiran 1996 itu tanpa ingin melepaskan pelukannya.
Pria yang dipanggil Mingyu itu langsung mengangkat Wonwoo ke dalam gendongannya dan membawa pria itu ke dalam kamar. Mingyu sudah terduduk di pinggir tempat tidur double bed, membawa Wonwoo ke atas lahunannya.
Setelah membuka topi hitam dan melemparnya sembarang, dengan tanpa ragu Mingyu segera melumat bibir tipis Wonwoo yang kini sudah berada di lahunannya. Bibir orange tebal itu turun ke selangka milik Wonwoo — bagian kesukaannya. Wonwoo membanting kepalanya ke belakang, menikmati kecupan demi kecupan dari pria muda yang sangat ia rindukan itu.
“Coba liatin ke aku seberapa kangennya kamu, kak!” tantang Mingyu ketika melihat wajahnya prianya yang cantik seusai mandi.
Wonwoo hanya tersenyum, dan terbangun dari paha kekar Mingyu, “Sini, aku kasih tau!” ajak Wonwoo seraya berbisik di daun telinga Mingyu. Pria yang lebih muda itu berdiri dan kini mereka sudah saling berdiri berhadapan.
Pria bermanik rubah yang masih menggunakan batrobe-nya tersenyum manis dan dengan lincahnya tangan lentik Wonwoo melucuti fabric serba hitam yang Mingyu gunakan dari LA, hingga hanya menyisakan kain katun berlogo Celine di bawah sana. Tanpa ragu, pria manis itu mengecupi kulit sawo matang pria di depannya, dari bibir hingga turun ke leher jenjang Mingyu, lalu ke bagian depan tubuh kekar adik kesayangannya itu.
“Kamu diem aja, let me show you how much I miss you.” kata Wonwoo sedikit berjinjit dan berbisik menggoda, menggigit pelan daun telinga Mingyu.
Wonwoo mengambil posisi berlutut setelahnya, dan tatapannya berhenti di depan benda yang masih tertutup kain fabric berwarna putih. “Hello, you.” sapa Wonwoo pada benda yang mengeras di hadapannya, si pria manis itu menggenggamnya pelan dan mengecupi bagian yang menonjol di balik kain, dengan erangan pelan Mingyu sebagai backsound-nya.
“Iseppp, kak.” pinta Mingyu sedikit frustasi dan tak sabar ketika merasakan bibir lembut Wonwoo yang bermain dengan miliknya di bawah sana. Wonwoo bisa apa? Ia menuruti pinta dominannya.
“Ah, shit, Jeon Wonwoo, enak bangeetthh—” kata Mingyu bersemangat ketika Wonwoo sudah melakukan seperti apa yang ia inginkan.
Wonwoo tersenyum diantara gerakan wajahnya yang maju-mundur saat memanjakkan penis pria yang lebih muda itu dengan sempurna, Mingyu sangat menikmatinya hingga benda berurat itu mulai berkedut, perlahan ingin melepaskan putihnya.
“Gila, mau keluarin di muka kamu banget, kak!” erang Mingyu ketika sudah hampir sampai pada puncaknya.
Wonwoo melepaskan kejantanan Mingyu dari mulutnya, tanpa memberi jeda pria manis itu langsung menggenggam, serta memanjakan benda keras di hadapannya lagi, kali ini sambil memijat dengan jari-jemarinya yang lentik, semakin lama semakin cepat dan menatap ke arah Mingyu dengan tatapannya yang semakin sayu.
“Shot me, Gyu!” kata Wonwoo ketika ia melihat tetesan putih mulai keluar dari penis kesayangannya itu.
Dirasa tak perlu menunggu Wonwoo untuk meminta lagi, Mingyu segera mengeluarkan cairan putih lengket ke wajah putih mulus milik pria yang masih berlutut di bawahnya. Sedangkan, Wonwoo masih menikmati cairan hangat itu menetes di wajahnya sembari memijat kejantanan Mingyu hingga tetesannya yang terakhir.
“Suka?” tanya Mingyu, Wonwoo mengangguk semangat, masih menikmati putih Mingyu diwajahnya itu dengan perlahan menowel jari telunjuknya dan menikmatinya.
Mingyu kini sudah membantu Wonwoo untuk bangun dari berlututnya, lalu membalikkan tubuh pria manis itu untuk menghadap ke arah cermin yang berada di dalam kamar itu.
“Look how messy you are, kak.” kata pria di pantulan kaca itu, dan dengan jari jemari gemuknya, ia melepaskan ikatan bathrobe Wonwoo, melucuti satu-satunya kain yang pria manis itu gunakan.
Wonwoo membalikkan tubuhnya, mereka kembali saling berhadapan. Dengan intens, tatapan manik rubah yang erotic itu, menatap ke arah Mingyu, seraya menowel sisa sperma Mingyu pada wajahnya, “More, Gyu, please— Aku mau lagiii—” kata Wonwoo dengan nada suaranya yang manja. “Mau ini juga, mau dimasukin sama ini—” matanya yang semakin sayu dengan tangan lentiknya yang memegang kembali kejantanan Mingyu sekaligus mengelusnya.
Apa ada alasan yang bisa Mingyu katakan untuk menolak kakak manis yang seminggu ini tidak ia temui? Tentu saja tidak ada, sore ini mereka menghabiskan waktu berdua saling mendekap dengan desahan dan erangan mereka sebagai alunan lagunya.
END